Loading...

Ini Alasan Mengapa Aturan Makin Ketat


Dalam kehidupan atau lingkungan kerja sehari-hari tak asing bagi kita mendengar dengan adanya kata aturan. Kata aturan sebenarnya wajib dijalankan dalam kehidupan atau lingkungan kerja asalkan tidak melewati batas, dalam arti masih masuk akal. Nah di beberapa tempat aturan yang di buat sudah melewati batas-batas nilai kemanusian. Benarkan? Mungkin salah satu dari kita pernah melihat bahkan merasakannya.

Inilah Alasan Mengapa Aturan Makin Ketat yang banyak orang alami dalam kehidupan sehari-hari.
  1. Dulu melamar pekerjaan, cukup dengan tulisan tangan dalam selembar kertas. Kini, tidak cukup. Harus ada surat keterangan sehat, SKCK, FC ijazah dan transkrip stempel basah, bahkan surat keterangan bebas narkoba, serta aneka kertas dari RT, RW, Desa dan Kecamatan, seolah kita pendatang dari luar angkasa.
  2. Dulu, lulus sekolah, sudah dianggap kompeten. Kini, sudah lulus pun, diragukan kualifikasinya. Padahal yang bikin ijazah juga disetujui Pemerintah. Kini, sesudah wisuda harus diuji lagi, dengan alasan standard profesi. Harus ada sertifikat pelatihan, dengan alasan pengembangan. Harus ada sertifikasi dengan alasan terdaftar. Seolah kuliah kita hanya main-main di lapangan bola.
  3. Dulu, kita tidak butuh surat pengalaman kerja orang sudah percaya, bahwa dari ceritanya saja, tidak mungkin dia membual kisah. Kini, sudah ada surat pengalaman kerjapun, orang masih diminta surat pernyataan dari pejabat eselon dua.
  4. Dulu, dengan omongan saja, orang sudah percaya. Kini, didampingi pengacarapun, dianggap menyalah-gunakan.

Makin banyak manusia, makin modern, makin ribet. Ternyata, dengan berbagai alasan, tertib administrasi, sertifikasi dan akreditasi, tidak membuat kita lebih baik. Kita makin tinggi rasa tidak percaya dan semakin curiga. Bahkan, dengan sejawat.

Anehnya, kini, sebenarnya bisa juga dapat kerja tanpa berbagai surat dan sertifikat, asalkan ada segebuk Rupiah.
Itulah aturan buatan manusia.

Kita patut mengucap syukur, karena aturan Tuhan Allah pemilik Semesta Alam, tidak berubah dari zaman dulu hingga sekarang. Mereka yang dijamin masuk surga juga tidak diperketat aturannya. Dari dulu hingga sekarang sama. Bahwa kebaikan akan dicatat sebagai kebaikan. Kejelekan akan dicatat sebagai kejelekan.

Di mata manusia, kita memang beda. Yang berbuat baik pun disangka yang tidak-tidak. Yang berbuat salah, kadang dibela.

Jadi bagaimana?

Meski aturan makin ketat, toh itu buatan manusia. Yakin dan percaya diri itu penting. Biarlah kita dianggap salah di mata manusia. Karena beda penguasa, akan beda aturan. Itulah dunia.

Hidup ini harus berbekal keyakinan, bahwa masih ada kekuatan lain Yang Maha Melihat, yang membuat jiwa jadi terasa longgar. Roda di dunia ini pasti berputar dan kita suatu saat nanti akan menikmati keindahan. Tepat pada waktunya. Aturan terasa menyulitkan atau tidak itu sebenarnya hanya persepsi manusia.

Susah dan sedih itu, seperti umumnya film-film India, selalu ada happy endingnya.
Semoga bermanfaat.

Postingan terkait: