Loading...

Belajar Dari Air MataMu


Inspirasi Kehidupan_. Saya kelas lima waktu itu.

Salah satu guru saya muda dan cantik, dan saya pikir dia menyukai saya juga. Mengapa dia melihat saya setiap kali saya melihatnya?

Setelah penelitian panjang di ruang guru, saya mengetahui bahwa dia baru berumur dua puluh empat tahun. Aha! Bisakah dia menunggu saya sampai saya tumbuh dewasa? Saya baru berumur sebelas tahun, tapi apalah artinya tiga belas tahun jika cinta kami yang membara dapat mengalahkan segalanya yang merintangi kami?

Dia masih bermasalah dalam mengingat nama saya, tapi saya rasa masalah kecil ini akan terselesaikan begitu nama saya diukir di cincin kawinnya.

Tapi setelah itu, saya sadar bahwa agak konyol jika saya jauh cinta pada seorang guru.

Terutama bila dia terus memberikan saya nilai jelek.

Saat itulah saya bertemu Cedz dan Dina…

Cedz baik hati. Dia yang terpintar di kelas kami, dan dia memiliki lesung pipi yang paling menggemaskan.

Dan Dina sering terkikik, dan dia memiliki bulu mata terpanjang di dunia.

Sekarang pertanyaan besarnya: Siapa yang sebaiknya saya nikahi? Lesung pipi atau bulu mata?

Ya, masalah saya akhirnya terselesaikan ketika saya bertemu Tintin.

Oh ya, saya salah yang terakhir kali. Saya masih muda waktu itu. Itu semua cinta monyet. Tapi sekarang, ini adalah cinta sejati. Saya berumur lima belas tahun sekarang. Tintin dan saya benar-benar ditakdirkan bersama. Bagaimana saya tahu? Saya suka cara dia menutup mulutnya ketika dia tertawa…

Selama bertahun-tahun, saya menyukai seribu wanita lainnya dengan lesung pipi, bulu mata, kawat gigi, senyuman, cekikikan, jepit rambut, kedipan mata, tawa, bau, gigi…yang lain.

Saya memiliki pacar pertama saat berumur 17.

Kami putus, baikan, putus lagi, baikan lagi…

Silakan diulangi 3000 kali.

(Catatan: Karena itulah saya menjadi salah satu dari orang aneh itu yang menyarankan orang muda untuk memiliki pacar hanya setelah mereka lulus kuliah. Waktu dan energi mereka dapat dihabiskan untuk kegiatan-kegiatan yang lebih berguna bagi hidup daripada putus dan baikan sebanyak 3000 kali.)

Saya mendekti seorang wanita muda lainnya ketika saya berumur 25 – dan menunggu kesediannya.

Saya memberikan dia bunga mawar, coklat dan menyanyikan lagu cinta untuknya. Saya menjalani waktu yang super-duper fantastis. Kecuali satu masalah kecil: Dia tidak menyukai saya.

Pada malam yang fatal itu ketika dia akhirnya memberi tahu saya dengan cara yang paling baik, manis, dan penuh kasih, “Bo, keluar dari hidup saya,” saya meneteskan air mata hingga berember-ember.

Tapi saya penasaran, “Apa pelajarannya di sini? Bisakah air mata saya digunakan untuk sesuatu yang baik?”

Karena krisis air, saya menggunakan ember air mata saya untuk menyiram toilet.

Penantian berlanjut – dan itu menyiksa.

Apa yang Tuhan ingin saya lakukan dengan hidup saya?

Pada umur 28, saya bertemu seorang wanita muda cantik di kantor saya – melamar pekerjaan.

Tapi saat itu, saya sedang mempertimbangkan dengan serius untuk menjadi seorang imam – atau menjadi seorang selibat awam – menunggu sinyal persetujuan dari Tuhan.

Jadi saya menyingkirkan pemikiran romantis saya dan memutuskan untuk melihatnya seperti saya melihat sebuah perabotan. Jadi bagi saya, dia adalah salah satu kursi kayu di kantor.

Strategi ini berhasil.

Tapi kadang-kadang, saya menemukan diri saya diam-diam memandang kursi kayu ini tanpa alasan yang jelas.

Saya memberikan diri saya dua tahun untuk menentukan jika kehidupan selibat adalah panggilan saya. Jadi tidak ada kencan. Tidak ada tindakan-tindakan romantis. Tidak ada pacar.

Pada umur 30, saya pergi ke sebuah retreat di puncak gunung tanpa orang lain kecuali Tuhan, Alkitab saya dan seorang imam Yesuit yang bijaksana, untuk akhirnya menentukan apa yang saya ingin lakukan dengan hidup saya.

Seminggu kemudian, saya turun dari gunung dengan mandat dari Yang Mahakuasa untuk menikah.

Dan kemudian saya ingat akan kursi kayu cantik itu di kantor.

Maka saya mendekatinya.

Saya memohon. Saya meminta. Saya mengintainya seperti seorang predator.

Dan ketika semuanya itu tidak berhasil, diam-diam saya berkata, “Saya bosmu. Saya akan memecatmu jika kamu tidak menyetujui permintaan saya.” Dia menyambut gertakan saya dan mengajukan pengunduran diri hari berikutnya. Dalam keputusasaan, saya menutup mata saya dan merentangkan kedua tangan saya kepadanya dan berseru, “DALAM NAMA YESUS, kamu akan jatuh cinta pada saya! Shalalalala…”

Okay, bukan itu juga yang sebenarnya terjadi.

Yang penting adalah pada umur 32, saya menikahinya – dan ini telah menjadi perjalanan yang luar biasa.

Ya, hidup adalah sebuah perjalanan dengan amat sangat banyak penantian.

Dan kelihatannya seperti tidak ada yang terjadi sekarang.

Kita perlu menikmati perjalanan itu – untuk menikmati, merasakan, merayakan dan menghirup nafas dalam semua penantian, semua persimpangan, semua kegilaan, semua kemacetan dan kegagalan dan luka.

Dan saya juga telah menyadari bahwa segalanya yang terjadi dalam hidup adalah pelajaran.

Dalam kata lain, gunakan ember air matamu untuk sesuatu yang baik.

Tidak, saya tidak serius tentang menyiram toilet.

Gunakan air matamu untuk membuatmu lebih dewasa. Lebih kuat. Lebih bijaksana.

Selalu tanyakan dirimu sendiri pertanyaan ini, “Apa yang pengalaman ini ajarkan kepadaku?”

Teman, belajarlah sebisamu.
Semoga mimpimu menjadi nyata,

Bo Sanchez

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Belajar Dari Air MataMu"